Beranda » Cerpen Taaroat
Cerpen taaroat suku Asmat

Cerpen Taaroat

Cerpen Rendi Fadillah

“Namaku Taaroat.”

“Engkau tahu? Perempuan Asmat adalah Taaroat atau taar, bunga bakung berwarna merah dan indah. Cantik paras seperti kembangnya. Cantik hati seperti merahnya,”

kata Carola Biakai (1) sesaat. Taaroat terhenyak, karena ibu tak pernah memberitahu arti namanya, darimana nama itu, dan mengapa diberikan padanya.

“Perempuan suka mengenakan sali (2), kaum lelaki menggunakan koteka (3). Mereka bertelanjang dada. Dada perempuan menggantung. Ruas tulang meninggalkan bentuk dari kulit yang tipis dan hitam, bergerigi. Perut anak-anak Asmat membusung. Tulang punggung mereka juga menonjol. Kulit wajahnya tak lagi tampak seperti manusia yang mirip bunga bakung. Punya cahaya, lentur, dan berkembang karena embun di sela-sela bibirnya. Wajahnya hitam, tebal, tampak tua. Dan rambut gimbal mereka, bergulung, tersekat, kasar, kotor. Anak-anak tidak duduk di bangku sekolah tetapi di tanah, di lumpur, di bukit, di hutan.

Perempuan tidak jauh dari pasar, hutan atau sungai. Lelaki dekat dengan nira kelapa, alkohol, tembakau dan mereka tidak lagi berperang, mengayau karena sudah dilarang pemerintah RI. Ya, ayah tak bisa menunjukan kepiawaiannya memanah jantung musuh atau menebas leher dan menggantung kepalanya di tangan. Tidak lagi. Carol, tidak ada bunga bakung bagi perempuan Asmat.”

“Perempuan Asmat adalah beyor (burung nuri) dan ir (kakatua putih). Ini tergambar pada ukiran Asmat motif paruh burung sebagai hiasan kepala. Para suami tidak tahu kalau nenek moyang mereka tidak sekedar menempatkan simbol untuk perempuan itu di atas kepala. Ia harus dihormati dan dijunjung tinggi. Taaroat, perempuan kita tertindas, terisolasi dari emansipasi atas kesetaraan gender, terkekang adat masa lalu.

Ketika para lelaki kehilangan pekerjaan untuk berperang dan mengayau lalu merampas hak tanah atas hutan sagu dan babi. Para lelaki tidak lagi punya pekerjaan kecuali hanya mengukir patung saja. Dan perempuan masih punya peran domestik yang bukan menjadi tanggung jawab suami–wajah ibu selalu tampak lebih tua dari ayah. Kita mesti merevolusi sistem budaya yang ada dengan sistem baru yang lebih bisa menempatkan perempuan Asmat sewajarnya.”

“Carol, kita harus memanusiakan manusia? Tidak hanya ibu merambah hutan, mendayung perahu, memangur sagu, menjaring ikan, dan bila ada sisanya dijual di pasar. Uangnya hanya sekedar untuk membeli rokok untuk suami, minyak tanah untuk lampu petromak. Tidak! Ibu tidak memilih berdiam diri dengan tidak melakukan pekerjaan itu. Karena ayah siap saja dengan tombak, panah, pedang atau apa saja yang bisa menakuti mata ibu. Ibu menangis sedang aku hanya bisa meringkuk.

Tangis pecah dari bibir-bibir adikku, melihat ayah pernah menghantamkan benda tumpul ke kepala ibu. Ibu meraung lalu mendarat lagi kaki ayah pada perut ibu yang sedang membuncit.

Ibu sedang hamil. Ibu lelah. Ibu tidak bisa mengangkat kakinya untuk sekedar meminum air mentah di dapur. Ibu pingsan dan darah mengalir dari liangnya, orok keluar dari rahimnya, terlihat tali placenta melingkar. Tetapi ayah malah menjerit ketakutan lalu minggat dari Honai (4). Bukan karena istrinya pingsan dan keguguran melainkan setetes darah yang keluar merupakan pamali. Katanya bisa menimbulkan penyakit dan kematian, apalagi membasahi lantai Honai.

Dan perempuan Asmat selalu melahirkan anaknya di dalam bevak (5), di tengah hutan, sendiri. Menurutmu hal ini yang menjadikan perempuan Asmat tidak seperti manusia? Carol, aku sudah lelah. Aku tidak bermain lumpur, tidak berenang di sungai, tidak menikmati hujan, kadang membantu ibu memangur sagu. Aku ingin sekolah pada sekolah yang sudah lapuk itu. Aku sekolah hanya untuk merubah nasib: nasib ibuku, adik-adikku dan perempuan Asmat.

Ternyata perjuanganku tetap sampai pada nasibku sendiri, tidak pada nasib orang lain. Tidak ibuku, adik-adikku, perempuan Asmat karena mereka punya nasib sendiri. Aku tidak kuasa mencampuri urusan Vioneni, sesaat perlakuan suaminya tak kalah sama dengan ibuku. Ia tidak melahirkan di puskemas, tetapi di tengah hutan. Aku tak dapat menolak atau pura-pura tidak tahu tetapi aku tak dapat mencegahnya.”

Carol menggamit tangannya. Tidak lapuk, tua atau kasar seperti tangan ibu ketika seumurnya. Masa mudanya, di saat ia sudah jadi perempuan utuh mengenakan sali atau yokal (untuk wanita bersuami). Dia tidak mengikuti pesta dansa tiap hari minggu, mencari pasangan, calon suami, dan sekenanya membakarkan sagu untuknya di Honai seperti apa yang dilakukan masa muda perempuan Asmat. Taaroat hanya belajar. Dia sekolah.

“Taaroat, engkau salah. Perjuangan tidak sampai di sini. Kita melakukan perubahan perlahan secara universal. Dengan membangun yayasan pengembangan suku Asmat, menghidupkan puskesmas, mengadakan penyuluhan, memperkenalkan KB. Saya kira, beberapa tahun akan terjadi pergeseran sistem budaya.”

“Carol, aku kira aku telah…, Aku kakak tertua dengan enam adik lelaki dan empat adik perempuan. Jarak kelahiran kami rapat sekali, hanya terpaut satu tahun saja. Karena ibu tidak tahu KB atau ayah yang tidak terlalu mementingkan kesehatan refroduksi ibu. Urusan kelahiran adalah urusan wanita bukan lelaki. Lima adikku telah meninggal karena penyakit ispa dan malaria. Karena asap tembakau dari enam bibir orang tua di honai. Juga asap perapian yang mengepul di langit-langit. Tembus hanya sedikit-sedikit saja dari atap rumbia. Tidak lewat jendela karena Honai tak punya jendela. Tidak lewat dinding gaba-gaba, tetapi sebagian lagi masuk lewat napas, jatuh di tenggorokan dan simpan dalam paru-paru. Adikku terkena radang. Hanya aku saja yang sekolah sampai tamat sekolah rakyat tahun 1988, SMP, SMA. Sedang adikku yang lain: Nuri sampai kelas 3 Sekolah Rakyat. Vioneni, Trilenga, Ongka, dan Monic terus bermain di lumpur. Kadang membantu memangur sagu.

Mereka masih kecil-kecil saat itu sehingga tak terlalu peduli untuk mencari makan. Hanya aku yang tidak kerasan melihat ibu mesti memanggul bernoken-noken sagu. Sering ada goresan taring nyamuk dan lalat babi berdarah, lengket di tiap kulitnya. Belum sempat ia mengatur napasnya yang terengah-engah, menyeka keringatnya yang muntah di sekujur tubuh, mendiamkan sejenak tulang sendinya yang ngilu, memejamkan matanya, ia sudah berlalu lagi dengan sekeranjang ikan untuk dijual ke pasar di desa seberang. Dan sebagian uangnya ditabung untuk biaya sekolahku.

Seketika airmatanya tumpah begitu saja, saat aku mengutarakan untuk berhenti sekolah. Aku tahu dalam airmata itu ada harap yang begitu besar untuk menjadikanku orang besar. Mengubah nasib, pola pikir suku Asmat yang cenderung ke sistem patriarkhis (6). Aku tak sanggup mesti menyaksikan ibu bersusah payah merambah hutan sendiri, sedang ayah asyik saja bergumul dengan nira kelapa, alkohol, judi dan perempuan lain. Lalu setibanya di honai, ayah hanya menadahkan tangan, meminta jatah. Aku tidak sanggup melihat ibu menyayat kulitnya yang memar-memar dengan silet atau pisau sebagai cara untuk mengurangi rasa sakit. Sembab sambil terisak, menahan perih, lalu darah pun mengucur mengaliri goresan yang memanjang.

‘Ayah, ibu sedang sakit.’ Tetapi ayah tak peduli. Ia tidak segan memukul sampai membunuh bila tidak menyediakan sagu dan rokok. Carol, yang harus diubah pertama ialah pendidikan bagi satuan unit terkecil ke tatanan makro. Tidak hanya dengan melakukan lokakarya, membuka puskesmas, penyuluhan KB sedang suku Asmat sendiri tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan yang cukup untuk itu. Siapa yang tahu kalau masih ada beberapa ibu yang suka merambah hutan, memangur sagu, sedang suami tetap menakuti mereka dengan sebilah parang.”

Carola Biakai menggamit tangannya. Airmatanya mulai menggantung.

“Ayah poligami. Satu-satunya impian perempuan Asmat: hari ini atau besok dijadikan istri yang sekian kali dari seorang pria (7). Ibu menjerit sekenanya tetapi tak kuasa berontak. Terlihat api cemburu meradang. Emosinya meluap dan siap lepas dari puncak kepala. Tetapi ambisi ibu selalu surut melihat sebilah kapak, parang atau dayung yang tergantung di dekat ayah.” Aku menghela napas.

“Aku masih sekolah. Aku ingin menghidupkan teser bahwa perempuan Asmat tetap sebagai makhluk sakral, lewat perwujudan kedua mama tua: ucukamoraot (roh pohon beringin) dan paskamoraot (roh kayu besi) yang dilahirkan oleh ibu bumi (8). Aku masih sekolah sampai masa haid pertama dan alat refroduksiku telah matang. Aku dan ibu mendayung perahu sampai ke kecamatan Bis Agats. Aku turun lalu melangkahi sekat-sekat papan yang berlubang di atas jembatan yang makin lapuk. Dengan bekal sekedarnya, dengan pakaian yang tak layak untuk ke pesta, dengan sepasang sandal yang usang, dengan ijazah sekolah rakyat yang kuletakkan dalam noken (9), kugamit erat-erat.

Airmata ibu hanya tertahan. Ia tidak ingin menangis melihat aku sekolah. Ia menyodorkan sejumlah uang dan menyuruh pergi ke desa Bis Agats, ke rumah kakak perempuan ibu. Aku memanggilnya mamak. Ibu tersenyum, lalu satu tangannya melambai. Aku lihat di antara ujung-ujung jarinya ada yang terpotong. Dan sebagian jari yang terpotong itu pasti dibungkus kulit kayu, disatukan dalam kantong berisi abu jenazah kakek dan digantung pada honai ayah. Ibu melakukan mutilasi (10).”

“Taaroat, kita harus berjuang. Tanah ini, suku ini adalah tempat kelahiran kita, tempat kita pertama hidup. Tidak ada yang akan merubah sistem adat, budaya atau nilai kecuali kita saja, cucu-cucu Asmat. Engkau belum gagal karena engkau sendiri sudah berhasil menjadi guru. Sedang anak-anak lain, lelaki atau perempuan juga adikmu tidak mengerti saat itu. Mereka tidak mengikuti jejakmu untuk tetap sekolah sehingga mereka tetap terikat pada budaya masa lalu. Keterbatasan ilmu merendahkan pikiran seorang lelaki, ibu dan anak untuk keluar dari sistem patriarkhis, budaya nyeleneh, dan tak mengerti hakekat Tuhan. Suku kita berada pada sebuah lingkar yang tak punya lubang untuk keluar. Kita yang mesti menembus dinding lingkaran itu.”


Mamak tidak sering melakukan pokomber (11) atau usi (12). Ia mempelajari cara perempuan Muyu berladang, menanam pisang, ubi, tebu, kangkung dan hasilnya dijual ke pasar. Ia sering menjaring ikan, kepiting dan sering menukarkan dengan beberapa noken sagu pada tetangganya. Mamak tidak bisa membiayai sekolahnya. Mereka miskin. Dan ibu tidak selalu mengirimi uang. Karena niat sekolah telah mengakar, Taaroat rela saja ketika mamak menawarkannya untuk menjadi pembantu rumah tangga.

Taaroat meringkuk sepi dalam honai. Airmatanya mengalir jatuh ke lantai, jatuh pula ke lumpur pekat. Ia tidak ingin menuruti mamaknya mandi lumpur selama empat puluh hari, mencukuri rambutnya karena ibunya meninggal. Ia tidak berpikir untuk memotong telinga, jari seperti yang sering dilakukan suku Asmat. Ia memilih bisu, menutup bola matanya rapat-rapat, mendekap telinganya lalu terisak.

“Taaroat, engkau tidak ingin pulang ke kampung Ewer?”

“Tidak Mak. Aku tidak ingin melihat ayah tertawa saja di depan abu ibu.”

“Adik-adikmu?”

“Ya Mak, mereka sudah punya teman bermain. Anak-anak istri ayah yang baru.”

Mamak tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia berjalan ke bilik perempuan agak terbungkuk. Tulang lehernya tampak karena tinggi honai sekitar satu koma lima meter saja. Taaroat masuk ke ebey. Taaroat tak lagi bisa menahan getir. Ia mengambil pisau dan diletakkan di antara jarinya. Roh ibu lewat di depan matanya. Ia ingat ibunya masih tersenyum, bibir hitamnya tersunging sumringah. Lesung pipi dari wajah yang sudah keriput terbentuk walau tak kentara. Ibu mengingatkan sekolah lalu Taaroat pun melempar jauh-jauh pisau itu, menutup matanya rapat-rapat sehingga airmata yang sejak tadi berlinang terpaksa keluar.

“Aku tak bisa melanjutkan sekolah.”

Taaroat melipat tangan ke atas dadanya. Dipandangnya lekat-lekat cahaya petromak yang begitu lemah lalu beralih ke kaso-kaso (13). Matanya kosong. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang berada di alam nyata. Ia bermimpi. Uang melingkar di mimpinya. Dan uang itu hilang sampai ia tertidur pulas.


“Carol, aku bisa masuk SMA di Merauke berkat majikanku. Ia mengantarku dengan menumpang kapal perintis dan singgah di dermaga Merauke. Aku punya ijazah sekolah rakyat dan SMP tetapi aku tak punya cukup uang untuk menyelesaikan SMA. Umurku sudah mulai tua, hampir 18 tahun. Lelaki mana yang tidak tergiur pada tubuh indahku dan naluri seorang gadis remaja yang juga menyukai seorang lelaki. Ah, antara ingin sekolah atau tidak. Apakah sekolah pasti menjadikanku orang besar?

Uang hasil jerih payahku mengalir begitu saja hanya untuk sebongkah ilmu. Aku pernah kelaparan lantaran uang makan untuk biaya sekolah. Karena aku masih hidup, aku harus rela bekerja walau dalam keadaan sakit. Mengapa aku masih sekolah? Sederhana saja. Aku sudah terlanjur sekolah, aku sudah merangkak sampai tengah dan harus sampai ujungnya. Tidak mungkin berhenti di tengah karena aku bakal turun kembali. Kedua, karena aku ingat ibu.”

“Bagaimana mungkin engkau masih bisa hidup tanpa uang dan menyelesaikan SMA?”

“Apa yang tidak mungkin? Aku masih punya tubuh yang sintal dan kuat, punya tenaga, tetapi jangan kira aku menjadi PSK bagi penebang kayu gaharu. Aku bisa tidur seperti pengemis, bisa menjadi pembantu, mencuci, memasak, mengasuh anak. Aku masih punya jiwa dan jiwa itu mesti dihidupkan. Bukan tanpa arti. Tidak, manusia tidak hanya sekedar hidup. Aku baru tahu kalau manusia tidak hanya sekedar hidup seperti apa yang dilakukan ibuku. Ya, perempuan Asmat tidak mesti berada antara hutan, sungai dan pasar.”

“Sekarang engkau mengakui bahwa hidup adalah perjuangan. Bukan perjuangan untuk diri sendiri karena kita lahir, kita hidup, kita mati di antara masyarakat.”

“Ya, karena perjuangan, aku sempat menghunus lelaki yang mencoba memperkosaku. Aku tidak menjadi PSK. Aku bisa menyelesaikan SMA dan menjadi guru lalu punya ambisi untuk membangun, memberdayakan suku Asmat terutama kaum perempuannya. Para lelaki tidak tahu kalau ukiran patung mereka bernilai seni yang tinggi dan dikagumi oleh pecinta seni dunia.”

Mereka menginjakkan tanah setapak yang agak berlumpur. Di antara ilalang dan langit masih biru. Mentari baru sepenggalan naik. Mereka menempuh perkampungan Ewer. Di sini hanya ada satu sekolah saja. Tidak ada gereja. Tidak ada puskesmas. Taaroat bisa melihat sekolah yang sudah berumur itu. Dinding kayunya tetap kokoh, struktur bangunannya kuat. Dan mereka tidak tertegun ketika melihat seorang guru mengajar di atas tanah. Ia tersenyum dan sepuluh pasang bola mata bulat, hitam, pekat, tajam di ruang itu tersungging lebar.

Palembang, 14-15 Mei 2005

Cerpen ini adalah Pemenang I Lomba Penulisan Cerpen Telkom Online dengan Tema Bukan Kartini Biasa untuk Kategori Mahasiswa, Tahun 2005.


Keterangan:

1 Tokoh perempuan Asmat pada Forum Komunikasi Akat Cepes Asmat (Linggasari, 2004 : 123).

2 Rok dari serat kayu, kulit kayu, rumput yang dirangkai menjadi jumbi-jumbi yang dililitkan pada pinggul dan diikat, pada anak perempuan/ kaum wanita Asmat (Maulana, 1996 : 57).

3 Terbuat dari labu yang dikeringkan, menyerupai tabung silinder untuk menutupi penis (Maulana, 1996 : 57).

4 Bangunan berbentuk silindris yang dipergunakan sebagai tempat tinggal (Maulana, 1996 : 62).

5 Bangunan di tengah hutan.

6 Pemerintahan oleh para pria.

7 Surat kepada Stella, 23 Agustus 1900, DDTL. Hal. 64-65, dengan penyesuaian (Soeroto, 2001. Kartini, sebuah Biografi : 53).

8 Cerita ini dituturkan oleh Karola Biakai yang menjadi ketua Akat Cepes pada sebuah lokakarya pemberdayaan perempuan, dengan penyesuaian (Linggasari, 2004. Yang Perkasa Yang Tertindas : 22).

9 Tas anyaman dari serat melinjo (Sekarningsih, 2000. xv).

10 Adat kebiasaan untuk mengungkapkan duka cita dengan mutilasi, misal mencukur rambut, memotong  telinga, atau memotong ujung jari tangannya dengan parang atau pisau (Linggasari, 2004 : 31)

11 Mencari makan di hutan dari pagi sampai sore (Linggasari, 2004 : 28).

12 Memangur sagu selama dua minggu sampai tiga bulan (Linggasari, 2004 : 28).

13 Struktur atap yang terdiri dari kaso-kaso dari kayu bulat yang menghubungkan pusat honai ke dinding (Agusto. W. M, 1996 : 193).

2 komentar untuk “Cerpen Taaroat”

  1. Pingback: Review N’PURE Marigold Eye Serum – catatantoday.com

  2. Pingback: Pemenang Lomba Jurnalistik BSI 2021 – catatantoday.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *