Beranda » Melawan Takut Naik Speedboat Palembang Muba
speedboat palembang

Melawan Takut Naik Speedboat Palembang Muba

Speedboat Palembang Muba 200 PK itu melaju cepat sampai 60 km/jam di perairan Sungai Musi. Aku merasa terhenyak, menghilangkan getir dan rasa khawatir. Bagaimana aku terjun dari kapal ini jika tiba-tiba tenggelam!

Pesan singkat via WhatsApp muncul dari seorang teman saya di kantor. Intinya hari itu, tepatnya akhir Januari 2021 lalu, saya diminta berangkat ke Desa Bandar Agung, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Tapi ke sana bukan lewat jalur darat (naik mobil, red), melainkan naik speedboat atau kapal cepat sekitar 4 jam. Speedboat ke Lalan mangkal di bawah Jembatan Ampera.

Saat itu sudah muncul perasaan getir.

Speedboat ini, jika kecelakaan, bertabrakan, atau karam (tenggelam, red) selalu banyak korban jiwa.

Cuma saya buru-buru berpikir positif.

Siang itu, setiba di Dermaga Sungai Pasar 16 Ilir, bawah Jembatan Ampera, cukup banyak speedboat yang sudah mangkal berhimpit-himpit. Rute-nya rata-rata daerah perairan Sumsel yang memang lebih mudah dijangkau dengan angkutan sungai, seperti kawasan Jalur (perairan Banyuasin), Lalan (Muba), dan perairan Ogan Komering Ilir (OKI).

Setelah bertemu seorang teman, kami naik salah satu speedboat ke Lalan yang tiketnya sudah dipesan Rp.130 ribu per orang. Speedboat itu menggunakan mesin 200 PK. Lalu kami naik ke kapal tersebut dan ternyata kapal itu nyaris full penumpang. Kami masuk dari jendela kaca depan yang terbuka lalu memilih tempat duduk.

Rata-rata penumpang mengambil tempat duduk di belakang, mungkin karena di sana tidak terlalu terasa hantaman ombak. Duduknya berhimpitan, jangan kira seperti tempat duduknya ‘pesawat terbang’. Benar-benar sempit dan setiap baris memang dibuat untuk 3-4 penumpang, karena lebar kapal juga tak lebih dari 2,5 meter dan panjang hanya sekitar 5,5 meter.

Jadi kalau dihitung ada sekitar 7 baris tempat duduk, artinya dalam kondisi full penumpang minimal mencapai 21 orang. Waktu kami berangkat sekitar pukul 12.30 WIB, tempat duduk kapal motor ini pun penuh. Tak hanya yang duduk, ada juga penumpang berdiri di belakang atau duduk di atas speedboat. Bisa sampai 30 penumpang.

Beban kapal makin berat, mungkin overload, ditambah barang-barang penumpang yang ditumpuk di atas kapal. Makin takut rasanya, tapi mau urung berangkat tidak mungkin. Lalu saya melihat-lihat, mencari celah ‘tempat selamat jikalau… Ya, ruangan kapal ini begitu sempit, tidak bisa penumpang berdiri dalam speedboat. Keluar masuk harus merangkak. Pintu masuk hanya dari jendela kaca depan samping serang, atau dari belakang.

Ada jendela di kanan kiri masing-masing tempat duduk. Jumlahnya sekitar 14 jendela. Tapi ukurannya juga sempit kurang lebih 50×50 cm. Selama perjalanan, saya membuka jendela itu, jaga-jaga, jika sewaktu-waktu harus cepat bertindak. Walau untuk keluar dari jendela sekecil itu pun rasanya sulit. Harus bagaimana lagi, jika ada kejadian apa-apa, saya harus tahu cara melarikan diri dari kapal ini dengan cepat. Hanya bisa lewat jendela. Depan belakang penuh oleh penumpang, mau keluar juga penumpang lain harus keluar dulu.

Satu lagi, tidak ada yang namanya life jacket atau baju pelampung. Siapa yang harusnya memperhatikan masalah keselamatan penumpang ini. Serang? Atau penumpang sendiri cari selamat.

Selama perjalanan ke Desa Bandar Agung, Kecamatan Lalan sekitar 4 jam, saya tidak begitu tenang. Kadang sempat tertidur, tapi bangun lagi. Mau menikmati suasana keindahan Sungai Musi, di tengah kekhawatiran rasanya.

Speedboat 200 PK itu melaju cepat. Mungkin semua penumpang berharap, semoga perjalanan ini cepat sampai.


Setelah 4 hari di Desa Bandar Agung, Kecamatan Lalan, saya dan seorang teman pulang ke Palembang. Setiap hari, hanya ada 2 speedboat yang berangkat dari desa ini dan itu hanya pagi hari, pukul 06.30 dan 07.00 WIB. Sebenarnya bisa lewat jalur darat, tapi memutar ke Kabupaten Muba dulu dan itu butuh waktu lama mencapai 7 jam. Selain itu untuk jalur darat tidak ada angkutan umum, seperti angkutan sungai.

Kami pergi dari Kantor Camat setelah subuh, takut ketinggalan kapal. Kami sudah menunggu di dermaga desa itu sekitar pukul 05.30 WIB. Hingga pukul 06.30 WIB, speedboat yang berangkat ke Palembang tak kunjung datang. Baru pukul 07.00 WIB datang satu speedboat. Katanya ini satu-satunya yang berangkat ke Palembang hari itu.

Saya melihat tidak ada tempat duduk yang kosong. Bahkan seperti biasa, ada penumpang yang berdiri di belakang dan kali ini duduk di atas kapal saking ramainya. Jadi kesimpulannya, mau berangkat kami harus duduk di atas kapal. Di mana tempat barang-barang penumpang ditumpuk.

Tapi ada perasaan lega. Saya kira lebih aman duduk di atas dibanding di dalam kapal cepat ini. Kalau ada apa-apa tinggal melompat. Cuma rasa ngeri saja.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *