Beranda » Listrik, Nyawa bagi mereka di Pedesaan
listrik

Listrik, Nyawa bagi mereka di Pedesaan

Listrik itu Hidup Kami. Listrik itu bagai nyawa bagi mereka yang hidup di pedesaan!


HUJAN kembali menderu di Desa Banjar Sari, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumsel, Jumat sore (5/3). Saat itu, Amran (32) tengah sibuk memainkan smartphone-nya di teras rumah, tapi tiba-tiba lambat loading hingga tak bisa diakses. Sinyal yang semula menunjukkan 4G, perlahan hilang berganti edge atau hilang sama sekali. Dia mengeluh lalu masuk ke rumah menghidupkan lampu.

Ups, lampu mati, tidak ada aliran listrik.

“Lagi-lagi masalah listrik!”

Siswa kelas 2 SD, Azhar yang tengah membaca buku, memanggil umi-nya beberapa kali.

“Umi, umi, umi, lampu mati.” Umi-nya yang baru saja selesai menutup warung meminta Azhar berhenti dulu membaca buku karena lampu sedang mati. Azhar dan satu adiknya tidak bisa belajar, menunggu hingga lampu hidup. Amran lalu meminta Azhar dan adiknya menghidupkan lilin jika mau belajar lagi. Sementara ia sendiri, harus menunda mencucui piring, sisa berjualan.

Hingga malam desa itu gelap gulita, hujan tidak juga berhenti. Ketika hujan menderu, maka siap-siaplah lampu mati. Lampu mati tak sejam dua. Jika lampu sudah mati, maka siap-siaplah hilang sinyal. Senyap seketika seperti di hutan-hutan, hanya suara jangkrik sesekali berderik-derik. Jika lampu mati, sinyal hilang, gelap, panas, maka apa lagi yang mau diperbuat?

Tak heran, jika listrik itu yang membuat nyawa masyarakat desa ini bisa “hidup”.

Waktu itu Amran pernah melaporkan ke perusahaan listrik negara, mengapa lampu di desanya selalu mati saat hujan. Masalahnya pun tak sepele, setelah lampu mati, sinyal pun ikut hilang. Kali itu, langsung petugas listrik turun melakukan pemeriksaan jaringan di sepanjang jalur menuju desa di Kecamatan Semidang Aji. Mungkin ada gangguan karena hujan. Mereka juga memangkas beberapa dahan pohon yang menganggu jaringan listrik di pagi harinya. Setelah listrik padam hingga menjelang subuh.

Tapi ada pikiran “kotor” yang ikut mengganjal.

“Apa mungkin sengaja dimatikan supaya jaringan listrik tidak konslet saat hujan, atau memang karena ada gangguan listrik.” keluh Amran. Dia masih tidak paham, mengapa gangguan terjadi setiap kali hujan menderu. Lalu mengapa di 2021 ini, warga desanya tidak pernah “merdeka” dari listrik padam. Mengapa mereka harus menghadapi masalah sejak kuno di era yang sudah modern ini?

1 komentar untuk “Listrik, Nyawa bagi mereka di Pedesaan”

  1. Pingback: Online Learning UHAMKA 2021 – catatantoday.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *